Mobil Listrik Produsen mobil listrik asal Vietnam, VinFast, mencatatkan kerugian bersih sebesar US$712 juta (setara Rp11,6 triliun) pada kuartal I (Q1) 2025. Ini terjadi meskipun pengiriman kendaraan meningkat drastis. Dalam laporan yang dikutip Rabu (11/6/2025), VinFast menyebutkan telah mengirimkan 36.330 unit kendaraan listrik (EV) dalam tiga bulan pertama tahun ini. Angka itu melonjak 296% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

VinFast, produsen mobil listrik asal Vietnam, baru-baru ini mengumumkan kerugian bersih sebesar 18,76 triliun dong (sekitar Rp11,6 triliun) pada kuartal II/2024. Angka ini meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 13,4 triliun dong . Kerugian ini mencerminkan tantangan yang dihadapi VinFast dalam mengembangkan bisnis kendaraan listrik di pasar global.
Tantangan Keuangan dan Strategi Ekspansi
Meskipun mengalami kerugian, VinFast terus berupaya memperluas jangkauan pasar dengan menargetkan untuk menjual kendaraan di 50 negara, termasuk Indonesia. Perusahaan juga berencana membuka pabrik di India pada paruh pertama 2025 dan telah memulai pembangunan pabrik di Subang, Jawa Barat, pada Juli 2024 . Langkah ini diharapkan dapat memperkuat kehadiran VinFast di pasar internasional.
Dukungan Finansial dari Vingroup
Untuk mendukung ekspansi dan operasionalnya, VinFast menerima suntikan dana sebesar US$3,35 miliar (sekitar Rp55 triliun) dari perusahaan induknya, Vingroup. Sebagian besar dana tersebut berasal dari pendiri VinFast, Pham Nhat Vuong . Dukungan finansial ini diharapkan dapat membantu VinFast mencapai titik impas dan menghadapi tantangan dalam industri kendaraan listrik yang kompetitif.
Fokus pada Pasar Domestik dan Infrastruktur
VinFast menyoroti pentingnya pasar domestik Vietnam dalam mendorong pendapatan untuk sisa tahun 2024. Pasar Vietnam menyumbang lebih dari 90% dari total pengiriman pada kuartal kedua . Selain itu, perusahaan juga berinvestasi dalam pengembangan infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik melalui jaringan V-Green untuk mendukung adopsi kendaraan listrik di pasar domestik dan internasional.
Prospek Masa Depan
Meskipun menghadapi kerugian finansial, VinFast menunjukkan komitmen untuk berkembang dan bersaing di pasar kendaraan listrik global. Dengan dukungan finansial dari Vingroup dan ekspansi ke pasar internasional, perusahaan berharap dapat mencapai profitabilitas dan menjadi pemain utama dalam industri kendaraan listrik.
Kesimpulan:
VinFast, produsen mobil listrik asal Vietnam yang merupakan negara tetangga dekat Indonesia, mencatat kerugian sebesar Rp 11,6 triliun. Meski mengalami kerugian besar, langkah agresif VinFast dalam mengembangkan mobil listrik. Hal ini menunjukkan komitmen kuat dalam menghadapi persaingan industri kendaraan listrik global. Perkembangan ini menjadi sorotan penting di tengah tren transisi energi dan peluang kerja sama di kawasan Asia Tenggara. Khususnya bagi pasar Indonesia yang juga sedang mendorong ekosistem kendaraan listrik. Masa depan mobil listrik buatan Vietnam masih penuh tantangan, namun tetap memiliki potensi besar di tengah meningkatnya permintaan global terhadap kendaraan ramah lingkungan.