Krisis Legitimasi di Iran: Mengapa Demonstrasi Ekonomi Berujung pada Tuntutan Runtuhnya Rezim?
TEHERAN – Gelombang demonstrasi besar yang melanda berbagai kota di Iran kini telah memasuki fase kritis. Apa yang bermula sebagai jeritan rakyat atas runtuhnya nilai tukar Rial dan lonjakan inflasi, kini telah bertransformasi menjadi gerakan politik radikal yang menargetkan jantung kekuasaan: Sistem Velayat-e Faqih dan posisi Pemimpin Tertinggi (Supreme Leader).

Intisari Berita: Mengapa Iran Berguncang?
-
Akar Masalah: Tekanan ekonomi ekstrem akibat sanksi internasional dan manajemen internal yang buruk memicu kemarahan awal.
-
Eskalasi Tuntutan: Protes tidak lagi sekadar meminta perbaikan harga pangan, melainkan menuntut penghapusan sistem Republik Islam.
-
Struktur Kekuasaan: Fokus massa tertuju pada Ayatollah Ali Khamenei, yang memegang kekuasaan absolut di atas Presiden.
-
Mekanisme Formal: Secara teori, Pemimpin Tertinggi bisa dicopot oleh Majelis Ahli (Assembly of Experts), namun jalurnya sangat sempit dan birokratis.
Dualisme Kekuasaan: Antara Presiden dan Pemimpin Tertinggi
Banyak pengamat luar sering kali keliru melihat struktur politik Iran. Meski memiliki Presiden yang dipilih melalui pemilu, Iran sejatinya memiliki “dua wajah”.
Presiden Iran berfungsi sebagai administrator negara yang mengelola kabinet dan birokrasi harian. Namun, kendali atas militer, kebijakan luar negeri, dan keputusan strategis berada sepenuhnya di tangan Ayatollah Ali Khamenei. Inilah alasan mengapa demonstran sering kali mengabaikan tuntutan kepada Presiden dan langsung menyerukan slogan “Mampus Rezim”.
Bagi rakyat, mengganti Presiden tanpa mengubah sistem Pemimpin Tertinggi dianggap tidak akan membawa perubahan struktural terhadap nasib ekonomi dan kebebasan sipil mereka.
Jejak Kekuasaan Ali Khamenei: Dari Presiden ke Supreme Leader
Ayatollah Ali Khamenei bukanlah sosok baru dalam politik praktis. Pada tahun 1980-an, ia menjabat sebagai Presiden Iran sebelum akhirnya terpilih oleh Majelis Ahli (Assembly of Experts) untuk menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini pada tahun 1989.
Sejak saat itu, Khamenei membangun jaringan kekuasaan yang sangat solid, mengonsolidasikan kekuatan melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan lembaga-lembaga yudisial. Dominasi inilah yang kini menjadi sasaran kemarahan massa, karena ia dianggap sebagai arsitek utama kebijakan negara yang menyebabkan isolasi internasional bagi Iran.
Analisis: Apakah Pemimpin Tertinggi Bisa Digulingkan secara Konstitusional?
Banyak yang bertanya, apakah ada jalan legal untuk menurunkan Pemimpin Tertinggi tanpa pertumpahan darah? Secara konstitusional, jawabannya adalah Ya, namun secara praktis sangatlah sulit.
1. Peran Majelis Ahli (Assembly of Experts)
Lembaga ini terdiri dari 88 ulama yang bertugas mengawasi dan memilih Pemimpin Tertinggi. Berdasarkan hukum Iran, Majelis Ahli memiliki wewenang untuk memberhentikan Pemimpin Tertinggi jika:
-
Dianggap tidak lagi mampu menjalankan tugas secara fisik atau mental.
-
Kehilangan kualifikasi kepemimpinan atau keagamaan yang disyaratkan.
2. Hambatan Politik dan Loyalitas Elite
Masalahnya, sebagian besar anggota Majelis Ahli adalah sosok-sosok yang sangat setia kepada sistem yang ada. Selama elite politik dan militer (terutama IRGC) masih solid di belakang Khamenei, mekanisme pemberhentian ini hampir mustahil dilakukan.
Perubahan biasanya hanya terjadi jika terjadi “Krisis Legitimasi Total” di mana tekanan dari jalanan begitu besar sehingga memaksa para elite untuk mengorbankan pemimpin demi menyelamatkan sistem.
Kesimpulan: Persimpangan Jalan Sejarah Iran
Iran kini berada di titik nadir. Demonstrasi ini bukan lagi sekadar urusan “isi perut”, melainkan gugatan terhadap identitas politik negara yang telah berdiri sejak Revolusi 1979.
Masyarakat dunia kini menantikan, apakah tekanan massa mampu memecah kesolidan elite di dalam Majelis Ahli, ataukah rezim akan terus menggunakan pendekatan keamanan untuk meredam api kemarahan rakyat.
https://completegamexperience.com/