IHSG Ambruk 10% Hingga Trading Halt, Saham BBCA Dilepas Asing Rp2 Triliun!
Jakarta, 29 Januari 2026 – Pasar modal Indonesia mengalami tekanan hebat pada perdagangan hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terjun bebas hingga 10% yang memicu aktivasi trading halt, sebelum akhirnya berhasil memangkas pelemahan di penutupan sesi. Di tengah kepanikan pasar, saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi sorotan utama setelah mencatatkan aksi jual bersih (net foreign sell) yang fantastis.
Kronologi IHSG: Dari ‘Crash’ Hingga Rebound Tipis
IHSG hari ini ditutup melemah 1,06% di level 8.223,20. Meski berakhir di zona merah dengan koreksi 88,35 poin, angka ini jauh lebih baik dibandingkan kondisi pada tengah hari. Tekanan jual yang masif sempat membuat indeks ambles 10%, memaksa otoritas bursa menghentikan perdagangan sementara guna meredam volatilitas.
Data perdagangan menunjukkan transaksi hari ini mencapai nilai jumbo sebesar Rp68,18 triliun, dengan 521 saham terkoreksi dan hanya 214 saham yang mampu menguat.
BBCA Jadi “Samsak” Aksi Jual Asing
Emiten perbankan milik Grup Djarum, BBCA, menjadi motor utama tekanan pasar reguler. Berikut adalah poin-poin penting terkait performa saham BBCA hari ini:
-
Net Foreign Sell: Investor asing melepas BBCA senilai Rp2,06 triliun hanya dalam satu hari.
-
Akumulasi Mingguan: Dalam empat hari perdagangan terakhir, total aksi jual asing di BBCA telah menembus Rp8,09 triliun.
-
Dominasi Transaksi: Nilai transaksi BBCA nyaris menyentuh Rp20 triliun, yang berarti menyumbang lebih dari seperempat total transaksi IHSG hari ini.
Selain BBCA, saham perbankan pelat merah Bank Mandiri (BMRI) juga tak luput dari tekanan dengan catatan net foreign sell sebesar Rp853 miliar.
Daftar 10 Saham Paling Banyak Dilepas Asing (29 Jan 2026)
Mengutip data dari Stockbit, berikut adalah daftar emiten yang paling banyak dijual oleh investor mancanegara:
| No | Kode Saham | Emiten | Net Foreign Sell |
| 1 | BBCA | Bank Central Asia Tbk. | Rp2,06 Triliun |
| 2 | BMRI | Bank Mandiri (Persero) Tbk. | Rp853 Miliar |
| 3 | BUMI | Bumi Resources Tbk. | Rp802 Miliar |
| 4 | ANTM | Aneka Tambang Tbk. | Rp569 Miliar |
| 5 | BBNI | Bank Negara Indonesia Tbk. | Rp312 Miliar |
| 6 | TLKM | Telkom Indonesia Tbk. | Rp273 Miliar |
| 7 | IMPC | Impack Pratama Industri Tbk. | Rp237 Miliar |
| 8 | PTRO | Petrosea Tbk. | Rp214 Miliar |
| 9 | MDKA | Merdeka Copper Gold Tbk. | Rp156 Miliar |
| 10 | EMAS | Merdeka Gold Resources Tbk. | Rp125 Miliar |
Analisis: Mengapa Asing Kabur dari Saham Blue Chip?
Fenomena massive sell-off pada saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip) seperti BBCA dan BMRI memicu diskusi hangat di kalangan analis. Berikut adalah beberapa faktor yang patut dicermati:
1. Rebalancing Portofolio Global
Aksi jual yang mencapai triliunan rupiah dalam waktu singkat biasanya mengindikasikan adanya penyesuaian portofolio oleh pengelola dana besar (big fund) asing. Hal ini bisa dipicu oleh perubahan kebijakan suku bunga global atau peralihan dana ke pasar negara maju.
2. Psikologi Pasar Pasca Trading Halt
Keputusan bursa untuk melakukan trading halt saat indeks turun 10% terbukti efektif mencegah kejatuhan lebih dalam. Namun, tingginya volume transaksi (Rp68 triliun) menunjukkan bahwa terjadi “perang” antara investor yang melakukan panic selling dan investor domestik yang mulai melakukan akumulasi di harga bawah (buy on weakness).
3. Sektor Komoditas yang Ikut Terseret
Menariknya, saham tambang seperti BUMI dan ANTM ikut bertengger di jajaran top net sell. Ini menandakan bahwa sentimen negatif tidak hanya menyerang sektor keuangan, tetapi juga sektor komoditas yang biasanya menjadi bantalan IHSG.
