Kiamat Gletser: Ribuan Es Abadi Punah dalam Hitungan Dekade, Apa Dampaknya bagi Bumi?
ZURICH – Ancaman perubahan iklim tidak lagi sekadar prediksi masa depan, melainkan realita yang menghapus sejarah alam. Setelah dunia dikejutkan oleh “upacara pemakaman” gletser Pizol di Swiss yang berusia 700 tahun, penelitian terbaru mengungkapkan fakta yang jauh lebih mengerikan: dunia tengah bersiap menghadapi puncak kepunahan gletser global pada pertengahan abad ini.
Intisari Berita: Mengapa Ini Penting?
-
Puncak Kepunahan: Diperkirakan hingga 4.000 gletser akan punah setiap tahun pada puncaknya (sekitar 2050).
-
Indikator Baru: Peneliti kini fokus pada “jumlah unit gletser yang hilang total” bukan hanya volume es yang mencair.
-
Wilayah Terdampak: Pegunungan Alpen, Andes, dan Asia Utara menjadi wilayah paling rentan dengan kehilangan lebih dari 50% gletser dalam 20 tahun ke depan.
-
Skenario Suhu: Jika suhu bumi naik 4°C, laju kepunahan akan 5 kali lebih cepat dari saat ini.
Memahami Fenomena “Kepunahan” Gletser
Selama puluhan tahun, studi glasiologi lebih fokus pada penyusutan volume es. Namun, studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Climate Change memberikan perspektif berbeda. Para ilmuwan kini menghitung titik di mana sebuah gletser dianggap “punah” atau mati secara fungsional.
Matthias Huss, seorang glasiolog dari ETH Zürich, menjelaskan bahwa sebuah gletser dinyatakan punah jika luasnya menyusut di bawah 0,01 kilometer persegi atau volumenya tersisa kurang dari 1% dibandingkan volumenya pada tahun 2000.
“Perubahan iklim tidak hanya menyebabkan sebagian es mencair, tetapi memicu kepunahan massal banyak gletser secara total,” tegas Huss.
Skenario Terburuk: 4.000 Gletser Hilang Per Tahun
Berdasarkan model iklim global, laju kepunahan ini sangat bergantung pada keberhasilan manusia dalam menekan emisi gas rumah kaca. Berikut adalah proyeksi berdasarkan target suhu global:
| Skenario Kenaikan Suhu | Tahun Puncak Kepunahan | Laju Kehilangan per Tahun |
| 1,5°C (Target Paris Agreement) | 2041 | ~2.000 Gletser |
| 2,7°C (Jalur Kebijakan Saat Ini) | 2040 – 2060 | ~3.000 Gletser |
| 4,0°C (Skenario Terburuk) | 2050-an | ~4.000 Gletser |
Sebagai gambaran, hilangnya 4.000 gletser dalam setahun setara dengan melenyapkan seluruh es abadi yang ada di Pegunungan Alpen Eropa hanya dalam waktu 12 bulan.
Dampak Regional: Alpen dan Andes di Titik Kritis
Dampak dari kepunahan es ini tidak tersebar merata. Wilayah dengan dominasi gletser kecil adalah yang paling terancam dalam waktu dekat.
-
Alpen Eropa & Asia Utara: Diperkirakan akan kehilangan lebih dari separuh gletser mereka hanya dalam dua dekade ke depan.
-
Pegunungan Andes: Kehilangan gletser di wilayah ini mengancam pasokan air bersih bagi jutaan penduduk yang bergantung pada aliran air lelehan es untuk pertanian dan konsumsi harian.
Kehilangan gletser bukan hanya masalah estetika pegunungan. Hal ini juga mengganggu ekosistem air tawar, meningkatkan risiko bencana banjir bandang (GLOF), dan berkontribusi pada kenaikan permukaan air laut global.
Kesimpulan: Masih Bisakah Kita Bertindak?
Data menunjukkan bahwa puncak kepunahan gletser adalah kepastian yang kian dekat. Namun, intensitasnya masih bisa dikendalikan. Perbedaan antara kehilangan 2.000 gletser dengan 4.000 gletser per tahun sepenuhnya bergantung pada kebijakan dekarbonisasi global saat ini.
Pizol mungkin sudah menjadi sejarah, namun ribuan gletser lainnya masih menunggu keputusan kita hari ini untuk tetap membeku atau mengalir menjadi air mata bumi.
