INALUM TINGKATKAN KAPASITAS: 54% KEBUTUHAN ALUMINIUM NASIONAL MASIH DIIMPOR
PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) mengungkapkan bahwa 54% kebutuhan aluminium primer nasional masih dipasok dari impor. Untuk mengatasi defisit ini, Inalum menargetkan peningkatan drastis kapasitas produksi aluminium dari 275 ribu ton menjadi 900 ribu ton pada tahun 2029. Percepatan proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah menjadi kunci untuk mencapai swasembada alumina dan aluminium di Indonesia.
Pokok Pembahasan Utama
-
Kebutuhan Aluminium Nasional Indonesia: Data defisit dan ketergantungan impor aluminium primer.
-
Target Produksi Inalum 2029: Rencana strategis peningkatan kapasitas aluminium hingga 900 KTPA.
-
Proyek SGAR Mempawah: Ekspansi Smelter Grade Alumina Refinery fase 2 dan target produksi 2 juta ton alumina.
-
Swasembada Aluminium Indonesia: Upaya pemerintah dan BUMN untuk mengurangi impor dan hilirisasi.
Artikel Berita Komprehensif
Defisit Kritis Aluminium: Inalum Genjot Produksi 3 Kali Lipat untuk Kurangi Ketergantungan Impor
JAKARTA – PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) hari ini menyoroti situasi kritis dalam pemenuhan kebutuhan aluminium nasional, di mana lebih dari separuh pasokan masih bergantung pada impor. Direktur Utama PT Inalum, Melati Sarnita, mengungkapkan bahwa saat ini, baru 46% kebutuhan aluminium primer domestik yang dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri.
Dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi VI DPR RI pada Kamis (20/11/2025), Melati menegaskan bahwa 54% sisanya merupakan ceruk pasar yang harus diisi oleh produk impor.
“Jadi masih ada 54% kebutuhan aluminium primer yang masih dipenuhi oleh impor. Sehingga percepatan pembangunan smelter dan refinery menjadi sangat krusial untuk ke depannya,” ujar Melati Sarnita.
Target Ambisius: 900 Ribu Ton Aluminium pada 2029
Untuk mengatasi defisit impor aluminium yang signifikan ini, Inalum telah menetapkan target ambisius dalam rencana strategis lima tahun ke depan. Perusahaan menargetkan peningkatan kapasitas produksi aluminiumnya secara drastis, yaitu dari angka awal 275 ribu ton per tahun (KTPA) menjadi 900 KTPA pada tahun 2029.
Target peningkatan produksi aluminium ini akan didukung penuh oleh peningkatan pasokan bahan baku kunci, yakni alumina.
“Ke depannya di tahun 2029 kami sangat berharap kami bisa meningkatkan kapasitas produksi kami itu menjadi 900 KTPA untuk aluminium produk dengan support 2 juta ton alumina di projek SGAR 1 dan SGAR 2,” tambahnya.
Proyek Strategis: SGAR Fase 2 Mendekati Realisasi
Kunci dari peningkatan produksi alumina adalah percepatan proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat. Inalum saat ini tengah mengupayakan agar pembangunan SGAR Fase 2, yang merupakan ekspansi dari proyek Fase 1, dapat segera dimulai.
Masing-masing proyek SGAR Fase 1 dan Fase 2 dirancang memiliki kapasitas produksi alumina sebesar 1 juta ton per tahun. Dengan beroperasinya kedua fase ini secara penuh pada tahun 2028. Jumlah total produksi alumina domestik akan mencapai 2 juta ton per tahun.
Inalum berharap, melalui upaya hilirisasi dan ekspansi kapasitas ini, ketergantungan Indonesia terhadap impor aluminium primer. Hal ini dapat ditekan secara signifikan, sekaligus memperkuat posisi BUMN ini dalam rantai pasok industri global.
